Pernahkah kau merasakan dadamu seakan terasa sangat sesak hingga untuk bernafaspun terasa amat sangat sakit? Pernahkah kau merasakan lemas dalam sekujur tubuhmu hingga untuk melangkahpun kau tak mampu? Pernahkah kau ingin mencoba tertawa disaat semua orang tertawa lepas namun yang ada hanya tetesan air mata yang mengalir deras di pipimu? Atau mungkin, pernahkah kau berada di tengah tengah kebahagiaan orang orang yang ada di sekitarmu, namun yang ada kau tetap merasakan sepi ? Sendiri. Tanpa tau apa dan dimana kau saat ini?
Ah iya, terlalu dini memang untuk merasakan hal seperti ini. Bukankah ini yang aku mau? Lepas dari ikatannya, lepas dari genggaman keegoisan selama ini ? Tapi entah mengapa dadaku terasa sesak saat aku mengingat semua hal tentangnya. Mengingat semua kenangan bersamanya. Apa maksud semua ini? Apa arti semua ini? Entahlah, akupun tak tau.
Ingatkah engkau dengan sosok perempuan tampan yang sering aku ceritakan di setiap jengkal cerita ku? Ya. Saat ini pun aku tetap menuliskan tentangnya. Tentang rasa sepi ku tanpanya. Entah apa yang ada dalam benakku malam itu. Mungkinkah aku terlalu lelah dengan semua yang ada ? Ataukah memang ini akhir yang memang seharusnya terjadi? Aku melepasnya. Aku melepaskan semua ikatan dan komitmen yang ku bangun bersamanya. Aku melepasnya tanpa memikirkan benarkah tindakanku saat itu. Menyesalkah aku ketika dia benar benar sudah tak lagi ada disetiap hari hariku? Ah bodohnya aku.
Selama ini aku mencoba untuk bertahan dengan semua apa yang ada. Keegoisan dalam diri, keinginan untuk dominan, keinginan untuk selalu bersama yang setiap hari dia ungkapkan membuat ku muak. Membuatku ingin cepat mengakhiri semuanya.
Menyesalkah aku?
Bisa dibilang iya, bisa dibilang tidak. Iya karena aku merasa ada ruang kosong dalam hati dan perasaanku. Merasakan ada sesuatu yang berbeda yang di tarik dari kehidupanku,, yang tak mampu lagi untuk kuraih. Tidak karena aku lega tak ada lagi yang menuntutku untuk pulang, yang membuatku semakin berat melewati hari hari ku disini. Melewati hari hari tanpa ada dia disampingku. Semakin membuatku ingin menyerah dengan jarak yang terbentang cukup jauh. Yang membuat perbedaan terasa semakin terasa. Lega akhirnya tak ada kemarahan ataupun rasa kesal yang selalu terasa setiap pertengkaran akan hal kecil ia mulai. Namun tetap. Rasa kosong ini, rasa sepi ini semakin terasa ketika aku mencoba untuk melupakan dia, mencoba untuk terbiasa dengan semua ini. Yang mungkin sudah terlatih dengan jarak yang satu bulan ini terbentang antara aku dan dia.
Menyesalkah aku?
Ya. Ini baru awal sayang, ini baru bulan 1 aku dan kamu terpisah jarak. Namun kenapa? Kenapa aku harus menghentikan semua ini? Menghentikan semua perjuangan dan pertahanan ku selama ini. Sakit memang, semua perjuangan semua yang sudah ku lakukan terasa sia sia. Terasa tak berguna sedikitpun. Tak berharga memang. Aku tau kau rindu, ku tau kau ingin aku ada disamping mu di setiap engkau membutuhkan aku. Namun taukah kau ? Akupun merindukanmu, akupun ingin menemanimu disaat apapun. Disaat senangmu ataupun sedihmu. Namun lihatlah aku sayang. Tak sekali dua kali aku menjelaskan semua apa yang ada saat ini. Perubahan apa yang harus kita lewati. Kenapa engkau masih menuntut semua itu? Menuntutku untuk melakukan hal yang sebenarnya kamupun tau aku sulit merealisasikannya. Kenapa sayang?
Jujur, dari dalam hatiku yang paling dalam. Aku masih ingin melanjutkan kisah ini bersamamu. Masih ingin mengukir kenangan kenangan indah maupun sakit bersamamu. Namun entah mengapa hatikupun ingin engkau menyadari dan mengerti apa yang ada dalam hati dan fikiranku saat ini. Aku hanya ingin engkau tau dan memahami bagaimana kondisiku saat ini. Sebagaimana mungkin hanya ada satu sisi yang berjuang mempertahankan suatu hubungan. Yang sebenarnya akan lebih mudah dan ringan apabila kita saling menjaga dan bertahan. Bagaimana bisa hubungan ini berjalan mulus apabila salah satu dari kita ingin mewujudkan apa yang diinginkan tanpa mengerti apa yang di rasakan sisi yang lain. Bagaimana bisa hubungan ini akan langgeng apabila hubungan ini tak didasari dengan keterbukaan dan kepercayaan? Tak ada gunanya sayang. Tak akan beguna dan akan sia sia seperti sekarang ini. Yang ada hanya ada rasa sakit di antara kita. Hanya ada rasa kecewa dan tersakiti. Yang ada hanya rasa tak dimengerti tak dihargai atau bahkan merasa di sia siakan. Itu yang aku rasa saat ini.
Maaf jika keputusanku membuat mu kecewa. Maaf jika semua ini terasa sakit buatmu. Atau bahkan mungkin kau akan merasa bahwa aku hanya meminta rasa manis yang kau beri. Bersamamu hanya dalam suka mu, namun tidak dengan duka mu. Kau salah. Tak ada terbesit sedikitpun dalam benak ku untuk melakukan hal seperti itu. Maafkan aku sayang. Egoiskah aku? Mungkin iya. Maafkan lah semua kesalahanku, maafkan semua kemarahanku, maafkan semua keegoisanku. Aku tetap disini sayang. Aku tetap ada dibelakangmu, melihatmu dari jauh. Jangan terluka lagi sayang. Jangan. Jaga dirimu baik baik. Jaga hatimu baik baik. Ku kembalikan cinta dan kasih mu yang selama ini kau beri untukku. Terima kasih atas waktu dan cinta mu.
Dari aku perempuan yang mencintaimu dalam diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar