Hai bulan, ingatkah engkau dengan ku. ya aku , aku yang selalu melihatmu ketika malam telah tiba, aku yang senantiasa menunggu kehadiranmu disaat hujan badai menghampiri malam malam indahku. ku tak pernah tau dimana dirimu, tak pernah mendengar kabar berita tentang mu. apa engkau melupakanku ? apa engkau tak melihatku ?
. . . .
gerak gerik gadis itu mengingatkanku akan seseorang yang pernah ada di masalaluku. gadis berambut pirang itu membuat ku tersenyum perih mengingat kelamnya duniaku. ya gadis yang hampir seluruh pelosok kota ini mengenalnya. rara , sosok gadis periang yang menghabiskan waktunya hanya untuk bersenang senang. tak pernah terlihat raut wajah murung di setiap harinya. tertawa lepas bersama sahabat sahabat yang menurutnya "sempurna".
namun itu tak pernah terlihat ketika dia memasuki dunia baru yang semua orang menyebutnya "rumah". tak pernah terlihat senyuman manis atau pun tawa canda di sana. tak pernah terdengar candaan ataupun gurauan. yang ada hanya tangisan, pukulan, bahkan cacian maupun makian yang selama ini tak pernah tergambar dalam raut wajahnya. hari harinya selalu penuh drama, drama yang tak pernah ia inginkan. senyuman canda tawa hanya sepenggal cerita kehidupan yang ia buat agar ia mampu melupakan sedikit beban yang ada.
dan kini akhir dari semua drama yang ia ciptakan berakhir dengan kegelisahaan, kebencian dan air mata. sahabat yang ia banggakan di dunia. sahabat yang katanya "selalu ada" untuknya kini hanya nama yang tertinggal sedangkan yang ada hanya kemunafikan akan sebuah harapan. sahabat yang selama ini selalu ia jadikan alasan mengapa ia bertahan. kini satu persatu pergi setelah tau apa yang ia alami di "rumah". terpuruk jatuh, terhempas dari keindahan pelangi. rara mencoba bangkit. namun sulit, hariharinya kini hanya ia lewati dengan kepedihan disudut kamar yang menjadi saksi bisu setiap derita setiap tawa yang ia rasakan .
namun itu tak pernah terlihat ketika dia memasuki dunia baru yang semua orang menyebutnya "rumah". tak pernah terlihat senyuman manis atau pun tawa canda di sana. tak pernah terdengar candaan ataupun gurauan. yang ada hanya tangisan, pukulan, bahkan cacian maupun makian yang selama ini tak pernah tergambar dalam raut wajahnya. hari harinya selalu penuh drama, drama yang tak pernah ia inginkan. senyuman canda tawa hanya sepenggal cerita kehidupan yang ia buat agar ia mampu melupakan sedikit beban yang ada.
dan kini akhir dari semua drama yang ia ciptakan berakhir dengan kegelisahaan, kebencian dan air mata. sahabat yang ia banggakan di dunia. sahabat yang katanya "selalu ada" untuknya kini hanya nama yang tertinggal sedangkan yang ada hanya kemunafikan akan sebuah harapan. sahabat yang selama ini selalu ia jadikan alasan mengapa ia bertahan. kini satu persatu pergi setelah tau apa yang ia alami di "rumah". terpuruk jatuh, terhempas dari keindahan pelangi. rara mencoba bangkit. namun sulit, hariharinya kini hanya ia lewati dengan kepedihan disudut kamar yang menjadi saksi bisu setiap derita setiap tawa yang ia rasakan .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar